Sabtu, 30 Januari 2016

Pengalaman pertama praktik KDPK


Assallamu’allaikum.. sebelumnya saya akan menceritakan pengalaman saya sejak mengambil pendidikan Diploma 3 Kebidanan di Akbid Bina Husada Tangerang yang bertepatan di Jl. Kutai Raya No.1, Kelapa Dua, Perumnas 3 Tangerang. Saat ini saya sedang semester 4. Pengalaman pada saat Caping Day atau istilahnya ucap janji mahasiswa pada tanggal 25 Februari 2015 karna sebelum terjun kerumah sakit harus mengikuti Caping Day dulu, pada saat itu kami semua di sumpah untuk tidak membeda-bedakan pasien. Ucap janji yang pernah saya rasakan untuk kedua kalinya, sebelumnya pernah ucap janji pada saat wisuda SMK Keperawatan. Acara yang begitu sakral dan hikmat sampai benar-benar saya resapi di hati.
Setelah Caping Day, Saya dan teman-teman terjun ke Rumah Sakit untuk praktik KDPK (Keterampilan Dasar Praktik Kebidanan). Ketika itu saya di tempatkan di RSUD Kabupaten Tangerang lebih jelasnya di Ruang Mawar. Ruang mawar adalah ruangan khusus pasien pre dan post operasi. Saya mendapatkan banyak pengalaman yaitu menginfus pasien, mengganti balutan/perawatan luka pasien post op, memeriksa EKG, mengoplos obat dan masih banyak lagi. tidak hanya itu saja disana juga saya jadi dosen lho... iya dorong pasien maksudnya hehe. Terasa sekali pada saat praktik KDPK itu lagi bulan puasa dan pada saat dinas siang harus jemput pasien ke ruang OK dan memindahkannya ke ICU. Nah ini dia yang lumayan nguras tenaga. Ya ruang ICU! ruangan itu berada di lantai 2. Dan tidak ada lift disana. Jadi jalan menuju ICU itu sangat jauh dari Ruang OK belakang sehingga kami harus menempuh sekitar ± 10 menit. Mendorong di tanjakan pertama dan kedua butuh bantuan dari keluarga pasien dan orang sekitar agar bed yang ditempati pasienku ini berhasil menuju pintu ruang ICU.
 Setiap orang pasti memiliki karakter yang berbeda, begitu juga dengan pasien disini, ada yang pendiam juga ada yang ramah, apalagi saat menangani Tn.B awalnya saya kira dia orang jahat berpostur badan tinggi besar, kantung matanya sangat hitam sekali dan sering meronta-ronta dengan banyak luka lebam di wajah dan sekujur tubuh, saya kira korban pengroyokan tapi ternyata korban kecelakaan lalu lintas saja, dibalik wajahnya yang sangar ternyata ada sisi humornya juga. Kemudian ada lagi pasien Tn.A ini juga lucu, pada saat petugas memeriksa pasien disebelahnya ia malah sukanya membuka tirai pembatas antar pasien, ingin tau apa yang dilakukan petugas dipasien sebelah, ada juga Tn.L saat diinfus selang infusnya malah buat main-main, tetesan infus sudah di atur petugas pasti nanti dirubah sendiri, itu yang membuat air infusnya cepat habis, sudah diperingatkan tetap begitu dengan terpaksa selang infusnya ditali biar tidak bisa buat main-main.

 Inilah sepenggal cerita selama praktik KDPK, pada intinya petugas disana baik-baik dan sangat ramah selalu membagi ilmunya pada kami yang pemula. Dapat bertukar pikiran dan dapat bekerja sama dengan baik walaupun kami masih mahasiswa tapi kami merasa di hargai. Sekian cerita dari saya terima kasih sudah membaca ceritanya.

Selasa, 12 Januari 2016

ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN KALA III PADA IBU HAMIL


ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN KALA III
PADA IBU HAMIL


Oleh:
Ulva Fawzia (070.01.01.14)



AKADEMI KEBIDANAN BINA HUSADA TANGERANG
2015



Fisiologi kala III dan Kebutuhan Persalinan Kala III

Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit dan akan terjadi :
1.      Perubahan bentuk uterus dan tinggi fundus uteri.
2.      Tali pusat memanjang atau terjulur keluar melalui vagina atau vulva.
3.      Adanya semburan darah secara tiba-tiba kala III , berlangsung tidak lebih dari 30 menit.
Setelah bayi lahir uterus teraba keras dengan fundus uteri  agak di atas pusat beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6 menit sampai 15 menit. Pengeluaran plasenta, disertai dengan pengeluaran darah. Komplikasi yang dapat timbul pada kala II adalah pedarahan akibat atonia uteria retensio plasenta, perlukaan jalan lahir, tanda gejala tali pusat.
Tempat implantasi plasenta mengalami pengerutan akibat pengosongan kavum uteri dan kontraksi lanjutan sehingga plasenta dilepaskan dari perlekatannya dan pengumpulan darah pada ruang uter- plasenter akan mendorong plasenta keluar.
Otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti penyusutan volume rongga uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat perlekatan plasenta. Karena tempat perlekatan menjadi sangat kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah maka plasenta akan terlipat menebal dan kemudian lepas dari dinding rahim. Setalah lepas plasenta akan turun kebagian bawah uterus atau kedalam vagina (Depkes RI, 2007).

Kebutuhan ibu pada kala III
Penatalaksanan aktif  kala III bagi semua ibu melahirkan yaitu : pemberian oksitosin, penegangan tali pusat masase uterus setelah segera lahir agar tetap kontraksi, pemeriksaan rutin plasenta dan selaput ketubanya ; pemeriksaan rutin pada vagina dan perineum untuk mengetahui adanya laserasi dan luka ; pemberian hidrasi pada ibu, pencegahan infeksi dan menjaga privasi.

Mekanisme pelepasan plasenta
Tanda-tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa atau semua hal-hal : perubahan bentuk uterus dan tinggi fundus uteri, dimana setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi dan plasenta terdorong kebawah, uterus berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus biasanya di bawah pusat. setelah uterus berkontraksi dan plasenta terdorong kebawah uterus berbentuk  segitiga atau seperti buah pear atau alpukat dan fundus berada di atas pusat (seringkali mengalah kesisi kanan) ; tali pusat memanjang, dimana tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva (tanda Ahfeld) ; semburan darah tiba-tiba, dimana darah terkumpul di belakang plasenta  akan membantu mendorong plasenta di bantu oleh gaya gravitasi. Apabila kumpulan darah (retroplacental pooling) dalam ruang di antara dinding uterus dan permukaan dalam plasenta melebihi kapasitas tampungnya maka darah tersembur keluar dari tepi plasenta yang keluar. (Depkes RI,2007)
Pengawasan perdarahan

Menejemen aktif  kala III
Penatalaksaan aktif pada kala III (pengeluaran aktif plasenta) membantu menghindarkan terjadinya pendarahan paska persalina. Penatalaksaan aktif  kala III meliputi:
1.      Pemberian oksitosin dengan segera
2.      Pengendalian tarikan pada tali pusat dan
3.      Pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir

Penanganan
1.      Memberikan oksitosin untuk merangsang uterus berkontraksi yang juga mempercepat plasenta :
a.       Oksitosin dapat diberikan 2 menit setelah kelahiran bayi
b.      Jika oksitosin tidak tersedia, rangsang puting payudara ibu atau susukan bayi guna menghasilkan oksitosin alamiah atau memberikan ergometrin 0,2 mg I.M.

2.      Lakukan peregangan tali pusat terkendali atau PTT ( CCT atau Controlet Cord Traction)  dengan cara :
a.       Satu tangan di letakan pada korpus uteri tepat di atas simfisis pubis. Selama kontraksi tangan mendorong korpus uteri dengan menggerakan dorso kranial – kearah belakang dan kearah kepala ibu.
b.      Tangan yang satu memegang tali pusat dengan klem 5 – 6 cm dengan vulva.
c.       Jaga tahanan ringan pada tali pusat dan tunggu adanya kontraksi kuat (2-3 menit)
d.      Selama kontraksi, lakukan tarikan terkendali pada tali pusat yang terus menerus, dalam tegangan yang sama dengan tangan ke uterus.

3.      PTT dilakukan hanya selama uterus berkontraksi. Tangan pada uterus merasakan kontraksi, ibi dapat juga memberitahu petugas ketika ia merasakan kontraksi. Ketika uterus sedang tidak berkontraksi, tangan petugas dapat tetap berada pada uterus, tetapi bukan melakukan PTT. Ulangi langkah langkah PTT pada setiap kontraksi sampai plasenta terlepas.
4.      Begitu plasenta terasa lepas, keluarkan dengan menggerakan tangn atau klem pada tali pusat mendekati plasenta, keluarkan plasenta dengan gerakan kebawah dan keatas sesuai dengan jalan lahir. Kedua tangan dapat memegang plasenta dan perlahan memutar plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketuban.
5.      Segera setelah plasenta dan selaputnya di keluarkan, masase fundus agar menimbulkan kontraksi. Hal ini dapat mengurangi pengeluaran darah dan pencegah perdarahan pascapersalinan. Jika uterus tidak berkontraksi kuat selama 10 – 15 detik, atau jika perdarahan hebat terjadi, segera lakukan kompresi bimanual dalam. Jika atonia uteri tidak teratasi dalam waktu 2 menit, ikuti protokol untuk perdarahan pascapersalinan.
6.      Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu 15 menit, memberikn oksitosin 10 unit I.M. dosis kedua, dalam jarak waktu 15 menit dari pemberian oksitosin dosis pertama.
7.      Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu 30 menit :
a.       Periksa kandung kemih dan lakukan kateterisasi jika kandung kemih penuh
b.      Periksa adanya tanda tanda pelepasan plasenta
c.       Berikan oksitosin 10 menit IM dosis ke 3 dalam jarak waktu 15 menit dari pemberian oksitosin dosis pertama
d.      Siapkan rujukan jika tidak ada tanda – tanda pelepasan plasenta
8.      Periksa wanita tersebut secara saksama dan jahit semua robekan pada serviks atau vagina atau perbaiki episiotomi.

Yang perlu diperhatikan :
Jika uterus bergerak kebawah waktu tali pusat ditarik, hentikan! Plasenta mungkin belum terlepas dan terjadi inversio uteri.
Jika uterus lembek/tidak berkontraksi bisa terjadi perdarahan.
Menunggu beberapa menit kemudian periksa lagi apakah plasenta sudah terlepas.

Contoh perdarahan pada kala III :

a.       Atonia uteri
Adalah suatu keadaan dimana terjadinya kegagalan otot rahim yang menyebabkan pembuluh darah pada bekas implantasi plasenta terbuka sehingga menimbulkan perdarahan.
Ujung pembuluh darah ditempat implantasi akan terbuka sesaat setelah plasenta dilepaskan, sekitar 350-500 ml darah/menit akan keluar melalui ujung pembuluh darah tersebut, penghentian perdarahan dari bekas tempat implantasi plasenta hanya dapat terjadi jika anyaman miometrium menjepit pembuluh darah yang berjalan diantara anyaman tersebut, atonia atau hipotania membuat mekanisme penjepitan tersebut gagal berfungsi.
Atonia uteri berkaitan dengan : kapasitas uterus jauh lebih besar dari normal (polihidramnion, hamil kembar, makrosomia, kala I atau kala II yang memanjang partuspresiitatus, induksi atau akselepersalinan, infeksi inta partum, grandemultipara, penggunaan tokolitik (misalnya : mgso4) atau narkose (misalnya : ether).

Penanganan :
Jika terdapat tanda tanda sisa plasenta, keluarkan sisa plasenta tersebut,blakuan uji pembekuan darah sederhana, jika perdarahan terus berlanjut dan semua tindakan diatas telah dilakukan, lakukan : kompresi bimanual interna; kompresi aorta abdominalis; jika perdarah terus berlanjut setelah dilakukan kompresi; lakukan ligasi arteri uterina dan ovarika; lakukan histerekstomi, jika terjadi perdarahan yang mengancam dijiwa setelah ligasi.

b.      Retensio Plasenta
Adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi. Pada beberapa kasus dapat terjadi retensio berulang (habitual retensio plasenta), plasenta harus dikeluarkan karena dapat menimbulkan perdarahan, infeksi karena benda mati, dapat terjadi plasenta incarserata, polip plasenta, degenerasi ganas khoriokarsinum.
Penanganan :
Jika plasenta terlihat dalam vagina, mintalah Ibu untuk mengedan, jika anda dapat merasakan plasenta dalam vagina, keluarkan plasenta tersebut, pastikan kandung kemih sudah kosong. Jika diperlukan lakukan kateterisasi kandung kemih, jika plasenta belum keluar, berikan oksitosin 10 unit IM. Jika belum dilakukan pada penanganan aktif kala III. Jangan berikan ergometrin karena dapat menyebabkan kontraksi uterus yang tonik, yang dapat memperlambat pengeluaran plasenta..
Jika plasenta belu dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus terasa berkontraksi, lakukan penarikan tali pusat terkendali, jika tali pusat terkendali belum berhasil cobalah untuk melakukan pengeluaran plasenta secara manual.
Jika perdarahan terus berlangdung, lakukan uji pembekuan darah sederhana. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukan adanya koagulopati.
Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam, sekret vagina yang berbau) berikan antibiotik untuk metritis.
Sewaktu suatu bagian dari plasenta satu atau lebih lobus tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraaksi secara efektif, raba bagian dalam uterus untuk mencari sisa plasenta. Eksplorasi manual uterus menggunakan tehnik yang serupa dengan tehnik yang digunakan untuk mengeluarkan sisa plasenta yang tidak keluar : keluarkan sisa plasenta dengan tangan, cunam ovum, atau curet besar, jika perdarahan berlanjut, lakukan uji pembekuan darah.

Yang perlu diingat sekitar 60% dari perdarahan pasca persalinan terjadi pada Ibu tanpa resiko yang dapat dikenali sebelumnya, senantiasa siap untuk menghadapi atonia uteri/perdarahan pasca persalinan manajemen aktif kala III merupakan upaya profilaksis komplikasi perdarahan.



Pemeriksaan plasenta selaput ketuban dan tali pusat
Sambil tangan kiri melakukan masase pada fundus uteri, periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa kotiledon dan selaput ketuban udah lahir lengkap , dan masukan kedalam kantong plastik yang tersedia.

Pemantauan : kontraksi, robekan jalan lahir dan perineum ; tanda vital : hygiene
Memeriksa apakah ada robekan pada introitus vagina dan perineum yang menimbulkan perdarahan aktif, segera lakukan penjahitan. Periksa kembali uterus tanda perdarahan pervagina, pastikan kontraksi uterus baik.
Lanjutkan pemantauan terhadap kontraksi uterus, tanda perdarahan pervaginam dan tanda vital ibu 2-3 kali dalam 10 menit pertama; setiap 15 menit pada 1 jam pertama; setiap 20 sampai 30 menit pada jam ke dua ; pastikan kontraksi uterus, bila kontraksi uterus tidak baik lakukan masase uterus dan beri metil ergometrin 0,2 mg intramuskular.
Mengajarkan ibu/keluarga untuk memeriksa atau merasakan uterus  yang memiliki kontraksi baik dan mengajarkan untuk melakukan masase uterus apabila kontraksi uterus tidak baik.
Mengevaluasi jumlah perdarahan yang terjadi kemudian memeriksa tekanan darah dan nadi ibu kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam ke dua pasca persalinan.

Referensi :

Rukiyah, dkk (2012) Asuhan Kebidanan II (persalinan). Jakarta : TIM

Jumat, 30 Oktober 2015

ATONIA UTERI


Disusun Oleh :
Ulva Fawzia
070.01.01.14
Diajukan untuk memenuhi tugas Mata kuliah Asuhan Kebidanan Persalinan
Sebagai Ujian Akhir Semester (UAS)
Dosen              : Moudy E.U Djami, MMPd., MKM., M.Keb.
AKADEMI KEBIDANAN BINA HUSADA TANGERANG TAHUN 2015


1.1.   KONSEP DASAR
Atonia uteri adalah suatu kondisi dimana myometrium tidak dapat berkontraksi dan bila ini terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya plasenta terjadi tidak terkendali. Keadaan ini dapat terjadi apabila uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan rangsangan taktil (masase) fundus uteri dan untuk mengatasinya segera dilakukan kompresi bimanual interna (KBI) dan kompresi bimanual eksternal (KBE).
Atonia uteri merupakan penyebab utama terjadinya perdarahan pasca persalinan. Pada atonia uteri, uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan.
Lemahnya kontraksi miometrium merupakan akibat dari kelelahan karena persalinan lama atau persaalinan dengan tenaga besar, terutama bila mendapatkan stimulasi. Hal ini dapat pula terjadi sebagai akibat dari inhibisi kontraksi oleh obat-obatan, seperti agen anastesi terhalogenisasi, nitrat, obat-obat antiinflamasi nonsteroid, magnesium sulfat, beta simpatomimetik dan nifedipin. Penyebab lain yaitu plasenta letak rendah, toksin bakteri (koriomnionitis, endomiometris, septicemia), hipoksia akibat hipoperfusi atau uterus couvelaire pada abruption plasenta dan hipotermia akibat resusitasi massif. Data terbaru menyebutkan bahwa grandemultiparitas bukan merupakan faktor risiko independen untuk terjadinya perdarahan post partum 3.

2.1 ETIOLOGI
Penyebab tersering kejadian pada ibu dengan atonia uteri antara lain : overdistention uterus seperti : gemeli, makrosomia, polihidramnion, atau paritas tinggi; umur yang terlalu muda atau terlalu tua; multipara dengan jarak kelahiran pendek; partus lama/partus terlantar; malnutrisi; dapat juga karna salah penanganan dalam usah melahirkan plasenta, sedangkan sebenarnya belum terlepas dari uterus.
Grandemultipara : uterus yang terlalu regang (hidramnion, hamil ganda, anak besar (BB>4000gr); kelainan uterus (uterus bicornis, mioma uteri, bekas operasi); Plasenta previa dan solution plasenta (perdarahan antepartum); Partus lama (exhausted mother); Partus precipitates; Hipertensi dalam kehamilan (Gestosis); Infeksi uterus; Anemia berat; Penggunaan oksitosin berlebihan dalam persalinan (induksi partus); Riwayat perdarahan pasca persalinan sebelumnya atau riwayat manual plasenta; Pimpinan kala III yang salah, dengan memijit-mijit dan mendorong-dorong uterus sebelum plasenta terlepas; IUFD yang sudah lama, penyakit hati, emboli air ketuban (koagulopati); Tindakan operatif dengan anastesi umum yang terlalu dalam.

3.1. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala yang khas pada atonia uteri jika kita menemukan : uterus tidak berkontraksi dan lembek, perdarahan segera setelah anak lahir (post partum primer).




4.1. PENILAIAN KLINIK ATONIA UTERI




5.1. FAKTOR RESIKO ATONIA UTERI
Identifikasi wanita yang berisiko atonia uteri ini sangat penting untuk memungkinkan
optimasi dan tindakan pencegahan yang harus dilakukan. Oleh karena itu, rencana rujukan dikelola dengan baik dan dilakukan rujukan yang tepat
faktor resiko atonia uteri (Breathnach & Geary, 2006) tercantum dibawah ini :

Faktor yang terkait dengan uterus lebih distensi
·      Beberapa kehamilan
·      Polihidramnion
·      Makrosomia janin
Penggunaan relaksan uterus
·      Anestesi dalam
·      Magnesium sulfat
Faktor intrinsik
·      Sebelumnya perdarahan postpartum
·      Perdarahan antepartum
·      Obesitas
·      Umur> 35 tahun.
.
Rasio odds untuk mengembangkan perdarahan postpartum dari makrosomia janin dan kehamilan multipel adalah 1,8 (95% CI 1,4-2,3) dan 2,2 (95% CI 1,5-3,2) masing-masing (Magann et al., 2005). Di hadapan twin-twin sindrom transfusi, meningkat rasio odds 5,1 (95% CI 1,5-15,7) (Magann et al., 2005). Sebaliknya, Carroli dkk. tidak menemukan hubungan antara beberapa kehamilan dengan terjadinya atonia uteri (Carroli et al., 2008). Sebuah data studi berdasarkan diperoleh dari Nationwide Contoh Rawat Inap (NIS), penggunaan umum dataset administrasi besar di Amerika Serikat, melaporkan sebuah asosiasi polihidramnion dengan atonia uteri yang membutuhkan transfusi darah dalam rasio odds 1,9 (95% CI 1,2-3,1) (Bateman et al., 2010).
Faktor intrapartum seperti induksi persalinan, persalinan lama, paparan oksitosin dan
Tahap ketiga yang abnormal juga diakui untuk bergaul dengan atonia uteri. Induksi persalinan memiliki rasio odds 1,5 (95% CI 1,2-1,7) (Magann et al., 2005) dan merupakan penyebab 17% dari atonia uteri yang membutuhkan transfusi darah (Bateman et al., 2010).
Penggunaan berkepanjangan oksitosin dalam persalinan kontribusi untuk atonia uteri. Grotegut dkk. memiliki menunjukkan bahwa perdarahan post partum besar sekunder atonia uteri secara signifikan lebih tinggi di wanita yang terkena oksitosin (Grotegut et al., 2011). Para penulis mengusulkan bahwa pemberian oksitosin persisten menyebabkan desensitisasi reseptor oksitosin yang lanjut kontribusi ke atonia uteri. Kehadiran fibroid rahim atau gangguan jaringan ikat dapat menghalangi myometrium kontraktilitas sehingga mengarah ke atonia uteri. Namun, data yang ada bertentangan dengan hal hubungan antara fibroid rahim dan atonia uteri (Hasan et al., 1991; Qidwai dkk., 2006; Roberts et al., 1999; Vergani et al.,1994). Pasien dengan jaringan ikat gangguan berada pada risiko yang lebih tinggi dari perdarahan post partum dibandingkan dengan populasi umum (Kominiarek & Kilpatrick, 2007) yang dijelaskan oleh dukungan jaringan ikat miskin. Oleh karena itu, uterotonika agen akan menjadi pengobatan lini pertama untuk kondisi ini. Meskipun identifikasi faktor risiko penting, mereka memiliki prediksi positif hanya moderat. Nilai (Callaghan et al., 2010) sebagai atonia uteri dapat terjadi dalam setiap wanita tanpa jelas faktor resiko. Oleh karena itu, meskipun deteksi dini adalah penting, tepat waktu dan tepat manajemen juga penting.

6.1. Penilaian resiko dan stratifikasi
Perdarahan post partum, atonia uteri adalah penyebab paling umum yang dapat dicegah dengan memastikan bahwa segera hemostasis dicapai dengan kontraktilitas miometrium yang efektif (Mukherjee & Arulkumaran, 2009). Pembuluh darah rahim memasok tidur plasenta melewati miometrium. Namun, dalam atonia uteri, ada kegagalan kontraksi miometrium menyebabkan gangguan vasokonstriksi pembuluh darah tersebut, yang mengakibatkan kehilangan darah yang berlebihan. Namun demikian hingga 60% wanita dengan perdarahan post partum tidak memiliki faktor risiko di identifikasi (Mukherjee & Arulkumaran, 2009). Dengan demikian, kesadaran, deteksi dini, resusitasi tepat waktu dan keterampilan manajemen yang diperlukan untuk mengatasi masalah ini.

7.1. Langkah-langkah Penatalaksanaan Atonia Uteri

No
Langkah
Alasan
1
Masase fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta (maksimal 5 detik)
Masase merangsang kontraksi uterus sambil melakukan masase sekaligus dapat dilakukan penilaian kontraksi uterus
2
Bersihkan bekuan darah san atau selaput ketuban dari vagina dan lubang serviks
Bekuan darah dan selaput ketuban dalam vagina dan saluran serviks dapat menghalangi kontraksi uterus
3
Pastikan bahwa kandung kemih kosong. Jika penuh dan dapat dipalpasi, lakukan kateterisasi menggunakan aseptic
Kandung kemih yang penuh akan menghalangi kontraksi uterus
4
Lakukan kompresi bimanual interna selama 5 menit


Kompresi ini memberikan tekanan langsung pada pembuluh darah dinding uterus dan juga merangsang myometrium untuk berkontraksi. Jika KBI selama 5 menit tidak berhasil diperlukan tindakan lain
5
Anjurkan keluarga untuk membantu Kompresi Bimanual Eksternal


Keluarga dapat meneruskan proses kompresi bimanual secara eksternal selama penolong melakukan langkah-langkah selanjutnya
6
Keluarkan tangan perlahan-lahan

7
Berikan ergometrin 0,2 mg IM (kontraindikasi hipertensi) atau misoprostol 600-1000 mg

Ergometrin dan misoprostol akan bekerja dalam 5-7 menit dan menyebabkan uterus berkontraksi
8
Pasang infus menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan berikan 500cc. Ringer Laktat + 20 unit oksitosin. Habiskan 500 cc pertama secepat mungkin

Jarum besar memungkinkan pemberian larutan IV secara cepat atau untuk transfusi darah. Ringer Laktat akan membantu memulihkan volume cairan yang hilang selama perdarahan,
Oksitosin IV dengan cepat merangsang kontraksi uterus.
9
Rujuk segera
Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 1 sampai 2 menit, hal ini bukan atonia sederhana. Ibu membutuhkan perawatan gawat darurat di fasilitas yang mampu melaksanakan tindakan bedah dan transfuse darah
10
Damping ibu ke tempat rujukan, teruskan melakukan KBI
Kompresi uterus ini memberikan tekanan langsung pada  pembuluh darah dinding uterus dan merangsang myometrium untuk berkontraksi
11
Lanjutkan infus ringer laktat + 20 unit oksitosin dalam 500 cc larutan dengan laju 500 cc hingga menghabiskan 1,5 liter infus. Kemudian berikan 125cc/jam. Jika tidak tersedia cairan yang cukup, berikan 500 cc kedua dengan kecepatan sedang dan berikan minimum untuk rehidrasi
Ringer Laktat akan membantu memulihkan volume cairan yang hilang selama perdarahan. Oksitosin IV akan dengan cepat merangsang kontraksi uterus

8.1. Strategi Manajemen
8.1.1 Pencegahan perdarahan post partum
Perdarahan post partum dicegah dengan berbagai cara. Pencegahan dimulai pada wanita berisiko tinggi, sedini periode prakonsepsi. Pencegahan dan optimalisasi anemia memungkinkan tolerabilitas yang lebih baik untuk tingkat keparahan variabel perdarahan post partum. Induksi dan augmentasi persalinan harus dibuat dengan indikasi yang jelas, dilakukan secara bijaksana oleh tenaga persalinan terlatih. Wanita berisiko tinggi perdarahan post partum harus disampaikan di pusat-pusat tersier dengan baik dilengkapi operasi teater, unit perawatan intensif dan transfusi darah jasa. The International Federasi Ginekologi dan Obstetri (FIGO) mempromosikan manajemen aktif dari ketiga tahap persalinan (manajemen aktif kala tiga) pada semua wanita untuk mengurangi kejadian perdarahan post partum (Leduc et al., 2009).
8.1.2 Keluarga Berencana
Tingkat prevalensi kontrasepsi rendah menyebabkan kesuburan tinggi di antara wanita. Pada tahun 2007, berdasarkan laporan United Nation Divisi Statistik, tingkat prevalensi kontrasepsi di kalangan menikah. Wanita Malaysia (tua berusia 15 sampai 49 tahun) adalah pada 54% (Departemen Ekonomi dan Sosial Urusan, Divisi Statistik PBB, United Nation, 2010). Dalam CEMD Malaysia melaporkan 2001-2005, hingga 70% dari kematian ibu yang diakui pada wanita yang melakukan tidak berlatih kontrasepsi. Hal ini mencerminkan paritas tinggi memberikan kontribusi untuk lebih dari setengah kematian ibu disebabkan perdarahan post partum pada periode yang sama (Divisi Kesehatan Keluarga Pengembangan, Departemen Kesehatan, 2005).
8.1.3. Penggunaan Oksitosin
Penggunaan berkepanjangan oksitosin menyebabkan atonia uteri dan perdarahan post partum (Grotegut et al., 2011). Penggunaan oksitosin selama induksi dan augmentasi persalinan dapat mencegah atonia uteri. Sebuah diagnosis yang benar dari tenaga kesehatan adalah sangat penting dalam menghindari paparan yang tidak perlu dan terlalu lama untuk oksitosin. Sebuah pedoman yang jelas harus ditarik untuk indikasi induksi persalinan




REFERENSI
Sumarah,dkk (2008) Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin). Yogyakarta : Fitramaya
Rukiyah,dkk (2011) Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan). Jakarta Timur : TIM
Sarwono (2009) Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.  Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Abdel-Aleem, H.; Hofmeyr, G.J.; Shokry, M. & El-Sonoosy, E. (2006). Uterine massage and
postpartum blood loss, International journal of gynaecology and obstetrics: the official
organ of the International Federation of Gynaecology and Obstetrics, Vol. 93, No. 3, pp.
238-239.
Abdel-Aleem, H.; Singata, M.; Abdel-Aleem, M.; Mshweshwe, N.; Williams, X. & Hofmeyr,
G.J. (2010). Uterine massage to reduce postpartum hemorrhage after vaginal delivery, International journal of gynaecology and obstetrics: the official organ of the International Federation of Gynaecology and Obstetrics, Vol. 111, No. 1, pp. 32-36.
Allam, M.S. & B-Lynch, C. (2005). The B-Lynch and other uterine compression suture techniques, International journal of gynaecology and obstetrics: the official organ of the International Federation of Gynaecology and Obstetrics, Vol. 89, No. 3, pp. 236-241.
Anthony, J. & Johanson, R.B. (1996). Critical care in pregnancy, Current Obstetrics & Gynaecology, Vol. 6, No. 2, pp. 98-104.
Bateman, B.T.; Berman, M.F.; Riley, L.E. & Leffert, L.R. (2010) The epidemiology of postpartum hemorrhage in a large, nationwide sample of deliveries, Anesthesia and Analgesia, Vol. 110, No. 5, pp. 1368-1373.
Bauer, W.O.; Monti, G.; Cecconi, M. & Rhodes, A. (2009) Management of the circulation on
ICU, Surgery (Oxford), Vol. 27, No. 11, pp. 486-491.
Begley, C.M.; Gyte, G.M.; Murphy, D.J.; Devane, D.; McDonald, S.J. & McGuire, W. (2010)
Active versus expectant management for women in the third stage of labour, Cochrane database of systematic reviews (Online), Vol. 7, No. 7, pp. CD007412.
B-Lynch, C. (2005). Partial ischemic necrosis of the uterus following a uterine brace
compression suture, BJOG : an international journal of obstetrics and gynaecology, Vol.
112, No. 1, pp. 126-127.
Bolan, C.D. & Klein, H.G. (2007) Blood Component and Pharmacologic Therapy of
Hemostatic Disorders in Consultative Hemostasis and Thrombosis (Second Edition) W.B. Saunders, Philadelphia, pp. 461-490.
Boucher, M.; Nimrod, C.A.; Tawagi, G.F.; Meeker, T.A.; Rennicks White, R.E. & Varin, J.
(2004). Comparison of carbetocin and oxytocin for the prevention of postpartum hemorrhage following vaginal delivery:a double-blind randomized trial, Journal d'obstetrique et gynecologie du Canada : JOGC, Vol. 26, No. 5, pp. 481-488.
Brace, V.; Kernaghan D & Penney G. (2007). Learning from adverse clinical outcomes: major
obstetric haemorrhage in Scotland, 2003–2005. British Journal of Obstetrics & Gynaecology, Vol.114, pp. 1388–1396
Breathnach, F. & Geary, M. (2006). Standard Medical Therapy in A Textbook of Postpartum
Hemorrhage, eds. C. B-Lynch, L.G. Keith, A.B. Lalonde & M. Karoshi, Sapiens Publishing, United Kingdom, pp. 256.
Breathnach, F. & Geary, M. (2009). Uterine atony: definition, prevention, nonsurgical
management, and uterine tamponade, Seminars in perinatology, Vol. 33, No. 2, pp. 82-87.
Callaghan, W.M.; Kuklina, E.V. & Berg, C.J. (2010). Trends in postpartum hemorrhage:
United States, 1994-2006, American Journal of Obstetrics and Gynecology, Vol. 202, No.
4, pp. 353.e1-353.e6.
Carlough, M. & McCall, M. (2005). Skilled birth attendance: what does it mean and how can
it be measured? A clinical skills assessment of maternal and child health workers in Nepal, International journal of gynaecology and obstetrics: the official organ of the International Federation of Gynaecology and Obstetrics, Vol. 89, No. 2, pp. 200-208.
Carroli, G.; Cuesta, C.; Abalos, E. & Gulmezoglu, A.M. (2008). Epidemiology of postpartum
haemorrhage: a systematic review, Best practice & research.Clinical obstetrics & gynaecology, Vol. 22, No. 6, pp. 999-1012.
Chandraharan, E. & Arulkumaran, S. (2007). Massive postpartum haemorrhage and management of coagulopathy, Obstetrics, Gynaecology & Reproductive Medicine, Vol. 17, No. 4, pp. 119-122.
Christopoulos, P.; Hassiakos, D.; Tsitoura, A.; Panoulis, K.; Papadias, K. & Vitoratos, N.
(2011). Obstetric hysterectomy: a review of cases over 16 years, Journal of obstetrics and gynaecology : the journal of the Institute of Obstetrics and Gynaecology, Vol. 31, No. 2, pp. 139-141.
Combs, C.A.; Murphy, E.L. & Laros, R.K.,Jr (1991). Factors associated with postpartum hemorrhage with vaginal birth, Obstetrics and gynecology, Vol. 77, No. 1, pp. 69-76.
Cunningham, F.G.; Leveno, K.J.; Bloom, S.L.; Hauth, J.C.; Gilstrap, L. & Wenstrom, K.D.
(2005). Williams Obstetrics, 22nd edn, MacGraw-Hill, USA.
Department of Economic and Social Affairs, United Nations Statistics Division, United Nation (2011). Millennium Development Goals report 2011.
Department of Economic and Social Affairs, United Nations Statistics Division, United Nation (2010). Millennium Development Goals Indicators. Available:
http://mdgs.un.org/unsd/Data.aspx, 30.07.2010
Devine, P.C. (2009). Obstetric hemorrhage, Seminars in perinatology, Vol. 33, No. 2, pp. 76-81.
Division of Family Health Development, Ministry of Health (2005). Report on the confidential enquiries into maternal deaths in Malaysia 2001-2005, pp. 1-24.
Douglass, L.H. (1955). The passing of the pack, Bulletin of the School of Medicine (Baltimore,
Md.), Vol. 40, No. 2, pp. 38-39.
Doumouchtsis, S.K.; Papageorghiou, A.T. & Arulkumaran, S. (2007) Systematic review of
conservative management of postpartum hemorrhage: what to do when medical treatment fails, Obstetrical & gynecological survey, Vol. 62, No. 8, pp. 540-547.
Draycott, T.; Sibanda, T.; Owen, L.; Akande, V.; Winter, C.; Reading, S. & Whitelaw, A.
(2006). Does training in obstetric emergencies improve neonatal outcome?, BJOG : an international journal of obstetrics and gynaecology, Vol. 113, No. 2, pp. 177-182.
Georgiou, C. (2009). Balloon tamponade in the management of postpartum haemorrhage: a review, BJOG : an international journal of obstetrics and gynaecology, Vol. 116, No. 6,
pp. 748-757.
Gosman, G.G.; Baldisseri, M.R.; Stein, K.L.; Nelson, T.A.; Pedaline, S.H.; Waters, J.H. &
Simhan, H.N. (2008). Introduction of an obstetric-specific medical emergency team for obstetric crises: implementation and experience, American Journal of Obstetrics and Gynecology, Vol. 198, No. 4, pp. 367.e1-367.e7.
Grotegut, C.A.; Paglia, M.J.; Johnson, L.N.; Thames, B. & James, A.H. (2011). Oxytocin exposure during labor among women with postpartum hemorrhage secondary to uterine atony, American Journal of Obstetrics and Gynecology, Vol. 204, No. 1, pp. 56.e1-56.e6.
Guise, J. & Segel, S. (2008). Teamwork in obstetric critical care, Best Practice & Research
Clinical Obstetrics & Gynaecology, Vol. 22, No. 5, pp. 937-951.
Gulmezoglu, A.M.; Forna, F.; Villar, J. & Hofmeyr, G.J. (2007). Prostaglandins for preventing
postpartum haemorrhage, Cochrane database of systematic reviews (Online), Vol. (3), No. 3, pp. CD000494.
Gutierrez, G.; Reines, H.D. & Wulf-Gutierrez, M.E. (2004). Clinical review: hemorrhagic
shock, Critical Care (London, England), Vol. 8, No. 5, pp. 373-381.
Harvey, S.A.; Blandon, Y.C.; McCaw-Binns, A.; Sandino, I.; Urbina, L.; Rodriguez, C.;
Gomez, I.; Ayabaca, P.; Djibrina, S. & Nicaraguan Maternal and Neonatal Health Quality Improvement Group (2007). Are skilled birth attendants really skilled? A measurement method, some disturbing results and a potential way forward, Bulletin of the World Health Organization, Vol. 85, No. 10, pp. 783-790.
Hasan, F.; Arumugam, K. & Sivanesaratnam, V. (1991). Uterine leiomyomata in pregnancy,
International journal of gynaecology and obstetrics: the official organ of the International
Federation of Gynaecology and Obstetrics, Vol. 34, No. 1, pp. 45-48.
Haupt, M.T.; Bekes, C.E.; Brilli, R.J.; Carl, L.C.; Gray, A.W.; Jastremski, M.S.; Naylor, D.F.;
PharmD, M.R., Md, A.S; Wedel, S.K., Md, M.H. & Task Force of the American College of Critical Care Medicine, Society of Critical Care Medicine (2003).
Guidelines on critical care services and personnel: Recommendations based on a system of categorization of three levels of care, Critical Care Medicine, Vol. 31, No. 11, pp. 2677-2683.
Hayman, R.G.; Arulkumaran, S. & Steer, P.J. (2002). Uterine compression sutures: surgical
management of postpartum hemorrhage, Obstetrics and gynecology, Vol. 99, No. 3, pp. 502-506.
Haynes, J.; Laffan, M. & Plaat, F. (2007). Use of recombinant activated factor VII in massive
obstetric haemorrhage, International Journal of Obstetric Anesthesia, Vol. 16, No. 1, pp. 40-49.
Heard, J.S.; Quinn, A.C. (2010). Jehovah's Witnesses – surgical and anaesthetic management options, Anaesthesia & intensive care medicine,Vol. 11, No. 2, pp. 62-64.
Hofmeyr, G.J. & Gulmezoglu, A.M. (2008). Misoprostol for the prevention and treatment of
postpartum haemorrhage, Best practice & research.Clinical obstetrics & gynaecology,
Vol. 22, No. 6, pp. 1025-1041.
Hofmeyr, G.J.; Haws, R.A.; Bergstrom, S.; Lee, A.C.; Okong, P.; Darmstadt, G.L.; Mullany,
L.C.; Oo, E.K. & Lawn, J.E. (2009). Obstetric care in low-resource settings: what, who, and how to overcome challenges to scale up?, International journal of gynaecology and obstetrics, Vol. 107 Suppl 1, pp. S21-44, S44-5.
International Confederation of Midwives (ICM) and International Federation of
Gynaecologists and Obstetricians (FIGO) (2003). Management of the Third Stage of
Labour to Prevent Post-partum Haemorrhage (Joint statement). Available:
http://www.pphprevention.org/files/ICM_FIGO_Joint_Statement.pdf
Joseph, K.S.; Rouleau, J.; Kramer, M.S.; Young, D.C.; Liston, R.M.; Baskett, T.F. & Maternal
Health Study Group of the Canadian Perinatal Surveillance System (2007). Investigation of an increase in postpartum haemorrhage in Canada, British Journal of Obstetrics & Gynaecology, Vol. 114, No. 6, pp. 751-759.
Joshi, V.M.; Shrivastava, M. (2004). Partial ischemic necrosis of the uterus following a uterine brace compression suture, British Journal of Obstetrics & Gynaecology, Vol. 111, pp. 279–280.
Kalaivani, K. (2009). Prevalence & consequences of anaemia in pregnancy, The Indian journal
of medical research, Vol. 130, No. 5, pp. 627-633.
Karalapillai, D. & Popham, P. (2007). Recombinant factor VIIa in massive postpartum haemorrhage, International Journal of Obstetric Anesthesia, Vol. 16, No. 1, pp. 29-34.
Keriakos, R. & Mukhopadhyay, A. (2006). The use of the Rusch balloon for management of
severe postpartum haemorrhage, Journal of obstetrics and gynaecology : the journal of the Institute of Obstetrics and Gynaecology, Vol. 26, No. 4, pp. 335-338. Key, N.S. & Negrier, C. (2007). Coagulation factor concentrates: past, present, and future", The Lancet, Vol. 370, No. 9585, pp. 439-448.
King, M.; Wrench, I.; Galimberti, A.; Spray, R. (2009). Introduction of cell salvage to a large
obstetric unit: the first six months, International Journal of Obstetric Anesthesia, Vol. 18, No. 2, pp. 111-117.
Klein, H.G. (2006). Transfusion Medicine in Blood Substitutes, eds. Robert M. Winslow & MD,
Academic Press, Oxford, pp. 17-33.
Kominiarek, M.A. & Kilpatrick, S.J. (2007). Postpartum hemorrhage: a recurring pregnancy
complication, Seminars in perinatology, Vol. 31, No. 3, pp. 159-166.
Korhonen, J. & Kariniemi, V. (1994). Emergency cesarean section: the effect of delay on umbilical arterial gas balance and Apgar scores, Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica, Vol. 73, No. 10, pp. 782-786.
Leduc, D.; Senikas, V.; Lalonde, A.B.; Ballerman, C.; Biringer, A.,;Delaney, M.; Duperron, L.;
Girard, I.; Jones, D.; Lee, L.S.; Shepherd, D.; Wilson, K.; Clinical Practice Obstetrics Committee & Society of Obstetricians and Gynaecologists of Canada (2009). Active management of the third stage of labour: prevention and treatment of postpartum hemorrhage, Journal of obstetrics and gynaecology Canada: JOGC = Journal d'obstetrique et gynecologie du Canada : JOGC, Vol. 31, No. 10, pp. 980-993.
Leung, S.W.; Ng, P.S.; Wong, W.Y. & Cheung, T.H. (2006) A randomised trial of carbetocin
versus syntometrine in the management of the third stage of labour, BJOG : an international journal of obstetrics and gynaecology, Vol. 113, No. 12, pp. 1459-1464.
Lim, P.S.; Singh, S.; Lee, A.; Muhammad Yassin, M.A. (2011) Umbilical vein oxytocin in the
management of retained placenta: an alternative to manual removal of placenta? Archives Gynecology and Obstetrics, Vol. 284, No. 5, pp. 1073-1079. doi: 10.1007/s00404-010-1785-6
Lombaard, H. & Pattinson, R.C. (2009). Common errors and remedies in managing
postpartum haemorrhage, Best practice & research.Clinical obstetrics & gynaecology, Vol. 23, No. 3, pp. 317-326.
Lone, F.; Sultan, A.H.; Thakar, R. & Beggs, A. (2010). Risk factors and management patterns for emergency obstetric hysterectomy over 2 decades, International journal of gynaecology and obstetrics: the official organ of the International Federation of Gynaecology and Obstetrics, Vol. 109, No. 1, pp. 12-15.
Magann, E.F.; Evans, S.; Hutchinson, M.; Collins, R.; Howard, B.C. & Morrison, J.C. (2005).
Postpartum hemorrhage after vaginal birth: an analysis of risk factors, Southern medical journal, Vol. 98, No. 4, pp. 419-422.
Majumdar, A.; Saleh, S.; Davis, M.; Hassan, I. & Thompson, P.J. (2010). Use of balloon
catheter tamponade for massive postpartum haemorrhage, Journal of obstetrics and gynaecology : the journal of the Institute of Obstetrics and Gynaecology, Vol. 30, No. 6, pp. 586-593.
Martin, S.R. & Foley, M.R. (2006). Intensive care in obstetrics: An evidence-based review,
American Journal of Obstetrics and Gynecology, Vol. 195, No. 3, pp. 673-689.
Mobeen, N.; Durocher, J.; Zuberi, N.; Jahan, N.; Blum, J.; Wasim, S.; Walraven, G. & Hatcher,
J. (2011). Administration of misoprostol by trained traditional birth attendants to prevent postpartum haemorrhage in homebirths in Pakistan: a randomized placebo-controlled trial, BJOG : an international journal of obstetrics and gynaecology, Vol. 118, No. 3, pp. 353-361.
Moore, J. & Chandraharan, E. (2010). Management of massive postpartum haemorrhage and
coagulopathy, Obstetrics, Gynaecology & Reproductive Medicine, Vol. 20, No. 6, pp. 174-180.
Morel, O.; Malartic, C.; Muhlstein, J.; Gayat, E.; Judlin, P.; Soyer, P. & Barranger, E. (2011).
Mukherjee, S. & Arulkumaran, S. (2009). Post-partum haemorrhage, Obstetrics, Gynaecology & Reproductive Medicine, Vol. 19, No. 5, pp. 121-126.
Nanda, S. & Singhal, S.R. (2011). Hayman uterine compression stitch for arresting atonic
postpartum hemorrhage: 5 years experience, Taiwanese journal of obstetrics & gynecology, Vol. 50, No. 2, pp. 179-181.
Neilson, J.P. (2009). Maternal mortality, Obstetrics, Gynaecology & Reproductive Medicine, Vol. 19, No. 2, pp. 33-36.
Nirmala, K.; Zainuddin, A.A.; Ghani, N.A.; Zulkifli, S. & Jamil, M.A. (2009). Carbetocin
versus syntometrine in prevention of post-partum hemorrhage following vaginal
delivery, The journal of obstetrics and gynaecology research, Vol. 35, No. 1, pp. 48-54.
Padmanabhan, A.; Schwartz, J. & Spitalnik, S.L. (2009). Transfusion Therapy in Postpartum
Hemorrhage, Seminars in perinatology, Vol. 33, No. 2, pp. 124-127.